Sabtu, 20 Mei 2017

AfNin ke Taman Pintar Yogyakarta Part 1

Alhamdulillah..

Pada kesempatan ngebolang bulan Februari lalu, afnin berkesempatan bermain ke Taman Pintar Yogyakarta yang terkenal sarat ilmu pengetahuan itu lhooo..



Saat itu hari Jumat kami tiba di saat dgn mengiki gojek, tapi jam berkunjung tepat saat istirahat sholat Jumat. Jadi kami belum diperbolehkan masuk, dan kami memilih menunggu ke Perpustakaan Taman Pintar. Dan afnin bermain komputer yang berisi permainan-permainan edukasi utk anak-anak.


Alhamdulillah tepat pukul 13.00 arena Taman Pintar dibuka kembali utk umum.


Keren yaa, pintu masuknha disambut dengan aquarium raksasa berbentuk setengah lingkaran, dimana dpt melihat aneka ikan berenang-renang di atas kepala kita. 🐟🐠🐡🐋🐬

Setelah area aquarium raksasa, kami langsung disambut masuk ke jaman pre-historic.. Banyak Dinosaurus di area ini, dan membuat adik Nina ketakutan krn suara-suaranya 😁😁.

Setelah area pre-historic, kami masuk ke area percobaan sains yang dipandu oleh beberapa kakak-kakak dari universitas gajah mada. Waaah bagus banget nih penjelasan-penjelasan mereka untuk afnin.





Afnin ngebolang ke Candi Borobudur

Februari 2017


Candi Borobudur sungguh megah sekali bangunanmu....
Afnin sungguh terpukau dan perjalanan pertama ini sungguh tidak terlupakan..

Setelah melewati perjalanan cukup panjang mulai Hotel Dafam Maliboro kami berjalan kaki ke Busway Jogja sampai di terminal kami berganti transportasi ke bus antar kota menuju muntilan. Sampai di stopping point muntilan kami berganti naik Andong sampai pelataran Candi Borobudur.



Dengan tiket masuk sebesar Rp 30.000/org dewasa dan Rp 12.500/anak dgn usia dibawah 6th, kami bebas berkeliling Candi Borobudur dari jam buka pukul 06.00 pagi sampai jam 17.00 sore.

Harga tiket utk turis mancanegara jauh lebih mahal dibandingkan harga tiket turis lokal, berikut list harganya:



Akhirnya tiket sudah di tangan, maki kita explore salah satu dari Tujuh Keajainan Dunia ini 😍


Dari pintu masuk kami dicek tiket, dan ditanya dari mana kami berasal.. Tentu saja mereka bertanya dgn sgt ramah. Tidak jauh dari pintu masuk sudah banyak sekali para ibu-ibu yg menjajakan ojek payung mereka, krn dikhawatirkan cuaca yg bisa tiba2 hujan atau panas terik, maka kami menyewa payung mereka sebesar Rp 10rb, dikembalikan saat di pintu keluar.




Setelah berjalan menyusuri jalanan setapak dengan kanan kiri pemandangan taman hijau yg sangaaat luas, akhirnya kami tiba juga di tangga pertama Candi Borobudur 😍.


Oke, ini sebuah pencapaian Luar Biasa utk Mama Afnin, sampai usia menjelang 33th ini pertama kalinya utk Mama ke menuju Borobudur for real mencapai puncak.. Semangat justru berasal dari 2 bocah kecil petualang ini, yg tak kenal lelah menyemangati Mamanya yg terseok-seok menuju puncak Borobudur ditopang payung.


Suasana di awal bulan Februari saat itu ternyata tidaj sesepi yg kami bayangkan.. Cukup banyak juga wisatawan lokal yang berkunjung, dari karyawisata sekolah maupun pecinta alam.

Yeaaaay.. We did it 😍😍

Berhasil.. Berhasil.. Berhasil.. Ala ala Dora the Explorer kami girang sekali mencapai puncak stupa Candi Borobudur ini.


Pulangnya karena afnin the explorer sang pecinta binatang ini tadi diawal pintu masuk sudah melihat ada gajah-gajah yg bs ditunggangi, maka saat pulang bonus utk merrka yg telah gigih berjalan sampai ke puncak Borobudur adalah mama berikan treat boleh menunggangi gajah. Tarifnya Rp 50rb/sekali keliling dgn gajah.







Yeay this is the end of our story ngebolang ke Candi Borobodur 😘






Afnin pergi ke Yogyakarta part 2

Naaah melanjutkan kisah perjalanan kami ber3..

Hari ini akan menjadi perjalanan panjang Afnin menuju Candi Borobudur.
Dari hotel Dafam Malioboro Yogyakarta, kami berjalan kaki menuju halte busway Yogya.
Murah meriah sekali Rp 3.500/ orang, dan utk ukuran adik Nina blm membayar.
Busway nya tidak sebesar seperti di Jakarta, tp utk kenyamanannya sudah menyerupai.


Uniknya sepanjang kami menaiki busway ini para petugas dengan sopannya berbicara menggunakan bahasa krama inggil halus, jadi flashback memutar otak mengingat-ingat bahasa ibu.

Dari halte malioboro kami menuju stasiun, dan berganti menggunakan bus biasa yang akan membawa kami keluar yogyakarta menuju muntilan.


Kami sengaja memilih menggunakan transportasi umum murah meriah agar dpt berbaur dengan masyarakat lokal. Sebenarnga Yogyakarta menawarkan begitu banyak rental mobil beserta sopir khusus ke Borobudur dengan tarif variatif 300-500rb. Tapi kami memilih menggunakan bis umum sebesar kopaja dengan tarif murmer Rp 15rb/orang, dan utk nina blm dikenakan tarif.


Sesampainya di stoping point Muntilan kami hatus turun dari bis, dan melanjutkan perjalanan sekitar 1-2km menuju pelataran Candi Yogyakarta. Ada 3 pilihan, bisa melanjutkan dengan berjalan kaki, bisa menggunakan becak dan bisa juga menggunakan Andong.
Kali ini afiqah dan nina tentu saja memilih andong alias kalau di Jakarta namanya Delman. Cukup mahal juga Andong yg berjarak hanya 1km an tarifnya 30rb.


Seruuuu, sebagai penyuka hewan dan suka sekali naik kuda.. sudah pasti afnin sgt menikmati sekali perjalanan menggunakan Andong ini 😍.

Naah tibalah kami di pelataran depan kawasan wisata canti Borobudur.. Setelah turun dari Andong, memerlukan berjalan kaki lagi sekitar 500m menuju loket pembelian tiket masuk.



Jumat, 19 Mei 2017

Fiona Reka Mustika-IIP4_NHW#1

Adab Menuntut Ilmu - NHW#1


Bismillahirohmanirohim....

Ditepi pantai disebuah negeri antah berantah ini bersama 2 buah hati saya: Afiqah & Nina yg senantiasa menjadi inspirasi utk optimis menjalani hidup, saya merenungkan bab 1 adab menuntut ilmu, tujuan dan milestone yg akan dicapai..



Semoga saya dapat terus mengisi gelas kosong saya dan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, bagi saya, anak-anak, suami, keluarga dan masyarakat.

Prioritas Ilmu yang ingin saya dalami saat ini adalah ilmu mengendalikan diri dalam bersabar dan ilmu komunikasi bersama pasangan yg masih perlu diperbaiki..

Jujur saya tidak memiliki acuan baku dalam mendidik secara profesional untuk ke 2 anak dan keluarga saya.. Semua adalah ilmu jalanan yang saya dapatkan dari tempaan kehidupan yg menjadi lika-liku perjalanan hidup saya.

Saya anak terkecil dari 5 bersaudara di sebuah kota di Jawa Timur dan sejak smu saya bertanggung jawab menghidupi diri saya sendiri, bukan krn ortu saya tidak mampu.. tp krn usia mereka yg tidak lagi muda dan semua finansial telah dicukupkan untuk ke 4 kakak saya dan cukuplah bagi saya utk tdk menambah beban mereka lagi. Saya percaya Allah SWT mempercayakan rezeki bagi semua umat yg giat berusaha. InsyaAllah...

Alhamdulillah atas kehendak Allah SWT kuliah saya full terbiayai beasiswa, dan lgsg diterima bekerja ke Ibu Kota, jauh dr kota kelahiran saya.

Merantau dan Jauh dari bekal ilmu parenting, saya di kala itu tidak punya pengetahuan dlm memasak, merawat anak ya, dan berbenah rumah menjadi list ke sekian utk saya dikala mengejar karir saat itu.

Sebelumnya saya adalah pribadi yang tidak sabar, perfeksionis jauh dari keikhlasan. Allah SWT meningkatkan kesabaran saya selama beberapa tahap, diantaranya melalui tahap sakit.. Sakit yg membuat saya rehat dari hingar bingar karir pekerjaan duniawi dan mendekatkan saya kepada peran mulia seorang wanita menjadi seorang Ibu.. Sakit yg membuat saya kembali bersyukur, atas hari demi hari yg dilewati dari nikmat kesehatan yg telah Allah berikan...
2 bulan saya difonis tdk dpt berjalan, krn penyakit syaraf tulang belakang Multiple Schlerosis yg rupanya tdk main2. Dalam ujian kesabaran, Allah mempertemukan saya dgn suami, ayah dari kedua anak saya Afiqah dan Nina.

Jreng.. jreng.. Tidak lama saya dipinang.. Dan saat itu blm memiliki bekal parenting apapun 😂😂 berbekal kenangan dan contoh teladan yg pernah ditorehkan oleh Ibu saya, ibu yang kuat, optimis, melayani, dan multi tasking. InsyaAllah saya optimis dpt menjalani seperti beliau.

Tidak lama setelah kami menikah, Allah memanggil Ibunda saya tercinta krn penyakit gula yg dideritanya, mohon keikhlasannya dibantu mendoakan Al-Fatihah semoga Ibunda Khusnul Khotimah, Aamiin YRA. Terima kasih atas keikhlasannya mendoakan... 💞

Selepas 2th pernikahan, Allah kembali meningkatkan  derajat kesabaran kami, dengan diambilnya putra pertama kami dlm usia kandungan yg blm genap 6bln krn incompetence servics yg sy alami, lalu dikehamilan ke 2 pun Allah blm mempercayakan calon bayi yg ternyata tdk dpt bertahan lama di dlm kandungan saya.

Kesedihan bertubi-tubi atas kehilangan Ibu dan kedua buah hati saya membuat saya benar-benar pasrah berserah diri, ini rencana terbaik Allah SWT. Ini pula yang menjadi pengingat saya utk ikhlas dan selalu ingat akan penyakit saya yg sewaktu-waktu  dpt di ambil pemilik semesta.

Alhamdulillah 5th yg lalu Anak pertama kami: Aisyah Afiqah lahir dengan selamat. Lalu selang setahun kemudian anak kedua kami: Khayla Nina lahir dengan selamat.
Tanpa ada orang tua yg mendampingi dan membimbing, saya mencoba membesarkan anak-anak dengan cara saya sendiri, mencari ilmu dan menyaringnya yg sesuai dgn kami.

'Kudidik diriku demi anak-anakku.. '

Hanya itulah yg dpt saya perbuat, utk masa depan generasi yg lebih baik, perubahan dimulai oleh diri sendiri. Memperbaiki dan mengisi diri ini agar siap menerima dan menebarkan ilmu positive ke keluarga dan sekitar.

Untuk mencapai tahapan yg lebih baik seperti sekarang, saya telah melalui kehidupan seperti Roller Coaster, finansial yg dibatasi, tdk boleh bekerja diluar rumah membuat saya hrs bekerja online, sambil mengurus anak pertama yg delayed speech di usia 2th, memiliki bayi ke 2 di jarak yang berdekatan dgn serba mandiri, komunikasi dengan suami tidak terjalin lancar berbentur dengan sebuah jawaban apatis, mengerjakan semua tugas rumah tangga seorang diri dan bekerja utk mendapatkan income tambahan.

Banyak yg langsung saya praktikan dalam satu kesempatan: menggali kesabaran dan keikhlasan dlm menjalani peran ibu setelah melahirkan, sambil bekerja online, juga mengurus anak-anak & rumah tangga. Prioritas dan kecekatan sebagai ibu teruji di dalam fase ini.

Problem pertama: Komunikasi dengan pasangan

Hingga 4th pertama menjadi pembelajaran membentuk komunikasi efektif dgn pasangan. Komunikasi passif yg selalu berakhir dengan jawaban 'terserah' dari pasangan membuat saya terlunta-lunta menjalaninya, tdk ada direction tujuan keluarga yg jelas.. Dari ketidak jelasan ini artinya saya hrs membuka pikiran pasangan atas peran kewajiban menjadi sepasang orang tua atas amanah yg Allah titipkan kepada kami, mengajak pasangan utk dpt bergandengan tgn mengurus buah hati, membantu mencari income dan mengurus semuanya sendiri, jauh dari keluarga, tanpa asisten rumah tangga.

Saya percaya Allah menggariskan jodoh saya dgn suami adalah utk saling melengkapi kekurangan kami, utk saling menguatkan, saling berbagi beban dan juga berbagi kebahagiaan. Tidak mungkin terjadi hari ini jika kami tdk saling menurunkan ego kami utk memahami kekurangan satu sama lain, yg dpt kami lakukan utk terus membenahi komunikasi adalah saling mengutarakan maksud hati, mengutarakan apa yg kita harapkan dari pasangan, menghormati suami, menghargai pemikiran pasangan dan bersama-sama merajut impian yg menjadi tujuan bersama.

Ya.. saya bersyukur kondisi demikian yg menguatkan saya dan pasangan utk berusaha lbh baik lagi mendidik anak-anak kami.

Yang dapat kami perbuat adalah:
Mencari metode pembelajaran yang sesuai dgn kondisi keluarga kami, membuat rencana jangka pendek dan panjang dgn pasangan, menjalankan tugas rumah tangga dgn berbagi tugas dan peran, serta menanamkan kemandirian utk Afiqah dan Nina. Alhamdulillah untuk saat ini metode Homeschooling yang kami rasa masih cocok utk AfNin kami jalani bersama. Berbagi peran dengan suami, sebagai pendorong ilmu agama utk anak-anak, one day one surah setelah sholat maghrib bersama ayah. Walaupun lelah setelah pulang kerja, menanamkan akidah adalah hal utama bagi kelg kami.

Untuk tanggung jawab kemandirian, saya tdk byk memberikan tuntutan kepada Afiqah dan Nina. Syukur alhamdulillah dari keteladanan kami setiap hari mereka dgn sendirinya dpt mengerti dan emphaty membantu peran rumah tangga seperti, Afiqah Nina setiap pagi membantu memberi makan-minum hewan peliharaan kami 15 ekor kelinci, 2 ayam, 1 kura-kura dan 1 ekor kucing utk menanamkan tanggung jawab atas makhluk hidup yang bergantung kepada mereka. Tugas suami yg saat ini diambil alih Afiqah adalah menyapu & mengepel, Nina bertanggung jawab membantu membereskan mainan, mereka jg berkolaborasi membuat sarapan sederhana seperti telur goreng dan nasi goreng juga sayur sop utk makanan mereka sehari-hari, dan mencuci piring, gelas yang mereka gunakan.
Untuk ilmu alam, matematis, bahasa dll kami pelajari bersama-sama, setiap hari tema yg kami angkat sesuai dengan minat mereka semisal, muncul rasa penasaran mereka bagaimana reproduksi hewan mamalia, maka kami mencari literatur buku sebagai sumber acuan, dan youtube untuk memberikan gambaran realnya. Jika memungkinkan kami mencoba memfasilitasi mereka utk go to the source dan menjalani prosesnya secara real.

Dalam hal ini posisi kami adalah semua sama-sama murid, yang haus untuk belajar, tanpa saling menggurui.

Problem ke dua: Sabar dan ikhlas menjalani peran Ibu

Jika diukur, awal kadar kesabaran saya sangaatlah minim, jika pada awalnya level kesabaran saya (skala 1-10) ada di skala 2, masih sgt minim suka meletup-letup dan saya yg perfeksionis, lbh percaya dgn kemampuan sendiri drpd orang lain. Walaupun setelah Allah menempa saya dengan beberapa keadaan bertubi-tubi, level kesabaran sdh mulai bisa menerima keadaan dan berada di level 6, jg bisa dikatakan tetap perlu di upgrade lagi.

Saat ini masih beberapa kali terjadi ledakan emosi yang berakhir pada anak-anak.. Lelah, letih yang tdk tersalurkan membuat saya jenuh menjalani rutinitas kehidupan.

Salah satu upaya yg saya lakukan adalah terus berusaha bekerja dirumah utk mendapatkan income tambahan, dan memberikan project homeschooling utk Afiqah dan Nina agar kami masing-masing memiliki 'me time utk bereksplorasi'. Dalam hal ini yg menjadi minat mereka saat ini adalah membuat kue, di IG: afnincookies adalah project pertama mereka.
Bukan project yg saya prakarsai, krn saya pribadi tdk bisa membuat kue enak 😁 tp Alm.Ibu saya sangat piawai membuat kue lezat. Pada awalnya Afiqah belajar dari youtube dan terus mencoba memperbaiki resepnya sampai saya dan suami merasa resep yg ia temukan itu sgt enak dilidah. Dan mereka enjoy melakukannya, maka kami fasilitasi mereka utk membuka order.

Dari income usaha saya memproduksi sprei waterproof dan usaha anak-anak dari project Afnin Cookies ini kami gunakan utk kebutuhan homeschooling kami, seperti mengenal budaya dan adat istiadat nusantara dgn pergi ke Taman Mini Indonesia Indah, jika ada budget lebih kami pergi ke suatu daerah baru dengan transportasi kereta api, bis yang murah meriah dan juga promo budget airlines disetiap perjalanan sambil mengajarkan mereka utk dpt menjalani kehidupan dgn sederhana, secukupnya sehingga kelak jika mereka ada dititik bawah tidak akan kesulitan utk menerima dan menyesuaikan diri, dan dpt mengangkat derajat orang lain melalui usaha yg mereka ciptakan.
Insyaallah dalam setiap perjalanan saya sedang menciptakan memory indah kebersamaan, pengingat masa kecil mereka, hanya rahasia Allah yg tahu seberapa lama kebersamaan ini dpt kami lalui bersama.



Dalam keseharian yang telah padat, dengan kemauan 2 anak yang berbeda watak.. Sering kali emosi tidak kuasa terlampiaskan. Walaupun ucapan maaf telah diutarakan dan telah saling memaafkan. Saya percaya saya telah menorehkan luka di dalam hati mereka.

Ketakukan terbesar yg saya sesali adalah, saya akan meninggalkan sebuah torehan luka dalam pada anak-anak ketika kelak mereka dewasa... Saya tdk ingin meninggalkan kenangan yang buruk utk mereka hadapi di masa mendatang.
Untuk itu prioritas ilmu yg ingin saya terus upgrade adalah Ilmu kesabaran dan memperbaiki diri ini agar dpt meninggalkan kenangan-kenangan indah bagi anak-anak dan suami..

Hidup ini adalah pilihan.. Dan pilihan saya: menyadari limit keterbatasan diri, menerima hidayah dan memperbaiki diri agar bahagia dan bermanfaat bagi orang lain...

Mari sama-sama belajar dan mengisi gelas kita agar senantiasa selalu mudah menerima hidayah... Mohon bimbingan dari yth Ibu Peni Septi Wulandari, Ibu Sukeng fasilitator kami, Ibu Ami ketua IIP4 Jkt 1 dan semua teman-teman yg tergabung dalam 72 member Jkt 1, mari kita saling mensupport, saling menguatkan dan bangkit menjadi Ibu Professional 💖




Fiona Reka Mustika, IIP4_#NHW1

Sabtu, 13 Mei 2017

Latihan NHW - IIP4 Jkt 1

Assalamualaikum...

Bismillahirohmanirohim
Percobaan pertama untuk menyusun NHW  IIP 4

- FRM-

Kamis, 27 April 2017

AfNin ke Yogyakarta Part 1

Tahun 2017 ini menjadi tahun bersejarah bagi kami...☺
Karena, tahun ini saya bersama kedua putri saya... Afiqah 4th dan Nina 3 th memulai langkah perjalanan bertiga, tanpa ayahnya anak-anak..

Ini menjadi bagian dari program Homeschooling kami, dimana setiap bulan sebisa mungkin ada tema perjalanan yang kami lakukan untuk mengenal Budaya, Adat istiadat, Letak Geografis, mencoba transportasi umum, mengenal hewan khas daerah tsb, mengenal kuliner/makanan dan minuman khas di daerah tsb.

Alhamdulillah pilihan pertama kami adalah kota teduh nan nyaman: YOGYAKARTA

Stasiun KA Senin, Jakarta Pusat

Pilihan moda transportasi pertama adalah menggunakan Kereta Api. Afiqah dan Nina begitu excited dengan moda transportasi ini. Dan sejalan dengan Homeschooling kami bahwa pengenalan interaksi langsung baik utk anak-anak. Kereta yang kami pilih adalah kereta ekonomi: Fajar Utama. 


Saya pribadi cukup kaget dgn kereta ekonomi yg kami naiki saat ini sudah ber AC 😍 lebih nyaman dari KA periode-periode sebelumnya yg kotor, banyak pedagang, wc jorok dll. Kali ini PT KAI telah benar-benar berbenah positive.


Perjalanan pagi kala itu kami tempuh selama kurang lebih 8 jam. Dan sengaja kami memilih perjalanan pagi agar dapat menikmati pemandangan alam yg jarang dpt saya jelaskan ke afnin (Afiqah Nina). Begitu banyak sawah-sawah dengan padi menguning lebat menunggu dipanen, sungai-sungai lebaaar, dan aktivitas pedesaan lainnya.

Lalu apakah afnin tidak cranky selama 8 jam duduk di kereta api? Nah untuk mengantisipasi ini memang saya telah menyiapkan beberapa bekal dan aktivitas-aktivitas simple.

Rule 1 yg wajib buat saya memperhatikan perut anak-anak harus terisi, jgn smp kosong. Krn nya saya bangun jam 3 utk memasak bekal sarapan pagi -siang selama di kereta api.
Rule 2 menyiapkan snack kudapan kesukaan AfNin, yang saya bawa adalah susu ultra mimi 2 rasa, oreo,  chocolatos, dan permen sugus (ini saya beri hanya saat terpaksa ketika sudah jenuh saja)
Rule 3 membawa buku aktivitas yang terkait dengan tema perjalanan. Kali ini afiqah dan nina saya bekali memo notes book dan pulpen yg bs dikalungkan di leher, mereka bebas menggambar, menulis perasaan dan aktivitas mereka saat itu. Dan saya jg membawa 2 buku aktivitas sticker tema kereta api dan mobil.

Pukul 3 sore kami tiba di Stasiun Yogyakarta. Kala itu kami langsung menaiki becak yg menjadi transportasi manual ciri khas kota yogya. Eh tapi ada pula becak motor (bentor lho), tp sebagian besar masih didominasi becak manual alias becak kayuh kaki.


Setelah check in di hotel Dafam Malioboro, dan sholat. Langsung deh kami cuss berkeliling ke Malioboro yang happening itu.. Terakhir kali saya kesini 9th yg lalu dan ada beberapa perubahan seperti trotoar pejalan kaki yang semakin lebat, banyak kursi-kursi utk duduk dipinggir jalan, penataan pedagang yg tidak semrawut seperti kala itu. Top deh 😊


Berjalan kaki bertiga sambil membeli nasi kucing murah meriah tapi ueeenak.. (bagaimana nggak murah, nasi dibungkus ini ukurannya memang mini tp dengan harga 2.000 sangat worthed utk mengganjal perut) 😋

Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Benteng Vanderburg.. Namun sayang sekali kami tiba disana jam 4 tepat sesaat jam tutup museum 😅😥 Tapi kami sempat berfoto-foto sebentar, tanpa sudah mampir 😉 hehe..


Mau tau keseruan kami selanjutnya..? Sabar ya.. kelanjutan ngebolang kami akan saya tulis dengan judul : AfNin ke Yogyakarta Part 2 🤗🤗 see ya.. 👩👭