Tampilkan postingan dengan label IIP4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIP4. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juli 2017

Fiona Reka Mustika_IIP4_#NHW9

_Matrikulasi IIP batch #4_
_Nice HomeWork #9_

*BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN*

***PETUNJUK PENGERJAAN***

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Rumus yang kita pakai :

*PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE*

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana,  lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.

Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini:

Selamat menjadi agen perubahan

Karena

_Everyone is a Changemaker_

( Setiap orang adalah agen perubahan)

Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya untuk bisa lebih memahami secara detil matrikulasi IIP ini.

Salam,

/Tim Fasilitator IIP/

***



Bismillahirohmanirohim...

Assalamualaikum wr.wb.

Akhirnya sampai di penghujung NHW 9, materi Bunda sebagai Agen Perubahan
InsyaAllah niat dan misi saya dalam membuat perubahan di lingkungan sekitar semakin mengarahkan ke hal yang telah saya rencakanan.

Di lingkungan tempat tinggal saya, ada kesenjangan yang kontras sekali antara pekerja lapangan dengan penghuni perumahan. Terutama saat melihat laporan keuangan dalam penggajian tenaga keamanan/satpam, tenaga kebersihan/sampah, dan petugas penjaga masjid yang nominalnya hanya ratusan ribu jauh dari UMR, utk menghidupi keluarga.
Untuk itu ada beberapa anak seumuran afnin yang tidak bersekolah, dan dalam kesehariannya hanya dipertontonkan tontonan televisi yang kurang ada unsur edukasi.

Dari pengalaman beberapa tahun selama proses mendidik afnin, saya merasakan getaran besar yang membahagiakan hati, dimana saya senang mendidik anak-anak, saya senang menjadi agen perubahan, dimana anak adalah cikal bakal penerus peradaban, yang akan menjadi penentu peradaban. Saya ingin mendidik anak-anak yg kurang beruntung ini seperti mendidik anak-anak saya sendiri. Dengan bekal peralatan HS yang afnin pergunakan, saya yakin akan memberikan manfaat besar berbagi dgn anak-anak lain yg kurang beruntung ini. Hak mereka utk mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang layak ingin saya perjuangkan bersama-sama dgn kelg kecil kami.

InsyaAllah Misi saya Membuka Rumah Belajar Afnin akan segera saya realisasikan setelah renovasi rumah kami selesai πŸ˜‡πŸ˜‡
Mohon doa dan dukungannya ya πŸ™πŸ™πŸ™

Wassalamualaikum wr.wb

Fiona Reka M.A.

Jumat, 21 Juli 2017

Fiona Reka Mustika_IIP4_NHW#8

NHW#8
Nice HomeWork #8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
Mendidik Anak menuju keseimbangan bekal dunia dan akhirat mereka melalui optimasi stumulasi masa keemasan anak (Golden Ages)
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

Ingin membantu mencerdaskan kehidupan anak-anak balita yang kurang beruntung baik secara materi maupun kasih sayang dari orang tuanya.

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

Ingin membuka sekolah terbuka untuk anak-anak kurang mampu

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Memiliki ilmu yang terus bermanfaat untuk rumah belajar terbuka kami

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

-  Menjalankan misi saya untuk memberikan manfaat dari ilmu yg dimiliki melalui rumah belajar terbuka agar semakin dikenal dan membawa manfaat bagi masyarakat yg kurang mampu.

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

- Membuka Rumah Belajar Afnin
- Meneruskan projek rumah hidroponik di taman belakang rumah
- Meneruskan projek AfNin Farms : budidaya kelinci, ikan, bebek, dan kura-kura

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

- Membuka rumah belajar Afnin utk dhuafa dgn memanfaatkan sarana HS dan Library dirumah kami.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

Fiona Reka Mustika

Sabtu, 17 Juni 2017

Fiona Reka Mustika_IIP4_NHW#5

NHW#5 BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*



Bismillahirohmanirohim...



Jika diijinkan untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi ini menjadi kenyataan, saya ingin Proses Cara Belajar yang saat ini berlaku, diubah.. 



Pendekatan belajar saat ini menurut kacamata saya sangat membebani otak anak-anak.

Disaat periode emas otak mereka menyerap berbagai input dengan sangat cepat, sistem pendidikan kita malah menumpulkannya... 
Bagaimana tidak, bila setiap anak diminta untuk unggul, berprestasi meraih nilai sempurna dalam semua mata pelajaran, diminta seragam dan diarahkan memilih jurusan-jurusan tertentu yang dianggap paling menjanjikan pekerjaan... 

Tidak.. Tidak.. .Jangan korbankan generasi emas anak-anak kita yang telah memiliki jalan fitrah suci mereka masing-masing ini.

Tidak ada satu anak pun yang memiliki gen yang sama. 
Memiliki minat yang berbeda itu memang kodrat mereka... Tapi, jika orang dewasa mengarahkan mereka menjadi anak yang sama, maka bersiaplan dengan kemunculan generasi robot yang selalu patuh pada perintah, yang siap diprogram A-Z, yang memandulkan kreativitas alami mereka dan generasi yang tidak dapat mengutarakan suara batinnya, yang kemudian tinggal menunggu waktu siap meledak, mencari pelampiasan dari beban kerja otak yang sudah terlalu berat ini.



Ya extreme memang... Tapi itulah yang telah sama-sama kita lewati selama ini... 

Sekolah yang membawa tumpukan pekerjaan rumah, menghapal, menghapal dan menghapal tanpa memahami esensi sebenarnya apa itu R=M/V hanya sebatas kilas hapalan rumus saja.
Konon yang tidak juara kelas dianggap anak bodoh, Yang tidak dapat duduk manis dianggap anak nakal... Miris sekali stigma ini..


Wahai Ibu... Mohon mengertilah kami, para anakmu...

Kami ingin dimengerti, didengar, diperhatikan, dan diperlakukan selayaknya manusia utuh
Kami bukan robot penghapal, bukan juga anak anak nakal...
Kami adalah pribadi individu yang berbeda, dengan minat berbeda, dengan cara belajar yang berbeda, dan dengan cara pemahaman yang berbeda..

Dari keadaan ini lah saya ingin membuat sebuah sekolah yang InsyaAllah telah lama saya ikhtiarkan, yang selama ini coba saya wujudkan ke anak-anak saya dan ingin untuk di sebarkan ke seluruh generasi..



Sekolah dengan sistem waktu belajar yang singkat dengan pendekatan cara bermain, bereksplorasi dengan alam yang menstimulasi otak mereka dengan cara FUN, sekolah tanpa PR, sekolah dengan kebebasan melakukan minat yang anak-anak sukai. Tepat seperti yang saya perhatikan seperti model pendidikan di Finlandia.

Dan yang utama melalui pendekatan olahraga untuk mengaktifkan gross motoric dan soft motoric bekerja, kesenian musik dan segala bentuk kegiatan yang merelakskan otak mereka, meningkatkan curiousity mereka dan membuat masa emas anak menjadi optimal.

Kira -kira seperti ini lah perbandingan cara belajar di Indonesia dan Finlandia yang pendidikannya terbaik dan siswanya menjadi siswa terpintar dan terbahagia di seluruh dunia:



Di usia emas anak - anak yang sangat singkat ini saya berharap mereka lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk menjadi anak-anak seutuhnya, menikmati hidup mereka berinteraksi dengan keluarga, saudara, teman dan melakukan hobby yang mereka sukai semisal hafish, mekanik, menyanyi, olahraga, bermusik, menjahit, membaca, melukis, memasak, menjadi tukang kayu, pencipta robot,.. they can be anything, they want to be. Mereka dapat mewujudkan kekuatan yang mereka sukai itu. Tidak ada yang hina dari semua profesi tersebut, dan tidak pula anak harus dipaksa mengikuti stigma masyarakat yang menganggap anak yang berhasil adalah dengan menjadi Guru, Dokter, Insinyur, Akuntan dll...




Sistem pembelajaran yang dijalankan saat ini sudah terlampau menjadikan pendidikan sebagai bisnis yang 'menggiurkan'. Bagaimana tidak... dengan semua standarisari, sertifikasi, lalu ditunjang dengan bimbel-bimbel yang tidak henti-hentinya menggerus uang para orang tua dan memaksa otak anak utk bekerja keras menelaah setiap mata pelajaran dengan excellent demi meraih sekolah unggulan. Semua telah berorientasi pada grade dan (money oriented). Akan semakin banyak profesi yang tidak dihargai utk diperkenalkan dibangku sekolah karena dianggap sebelah mata, membuang waktu dan tidak menjanjikan uang dalam pekerjaan orang dewasa.



Ini semua telah membuat anak-anak lelah dan para pendidik lelah menguji dan terus menguji dengan apa yang belum tentu mereka pahami dengan benar, sebatas teori.

Bayangkan berapa kali dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun.. Anak dituntut untuk selalu menjawab dan menjawab... Bukan dimunculkan minat mereka untuk bertanya dan terus bertanya, sebagai fitrah ketertarikan (curiosity) mereka dalam suatu bidang.



Kelak jika berkesempatan mewujudkan mimpi ini, saya ingin mendirikan sekolah yang membawa para siswa dan para pendidik bahagia, menemukan fitrah belajar yang bahagia dan semakin semangat untuk menekuni yang mereka senang lakukan dengan hati bukan atas nama tinta emas gelar juara. 



Karena masa anak-anak ini sangat lah pendek, maka janganlah kita membebani otak mereka. Jika otak mereka dipaksa untuk terus bekerja dan bekerja, maka mereka akan berhenti belajar dan semakin mengkerdilkan daya kritis mereka,,,



Semoga dengan adanya penyetaraan cara belajar FUN disemua sekolah kelak, para orang tua tidak perlu berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah unggulan yang mahal dan ternama, karena dengan metode yang sama sekolah negeri menjadi sekolah yang sama unggulnya dan sama meleburnya antara si miskin dan si kaya.



Dan semua ini untuk menciptakan pribadi anak yang Bahagia, yang menghargai dirinya sendiri dan menghargai orang lain.




Lampiran: Bentuk Belajar (Curriculum HS - Afnin)

Jumat, 26 Mei 2017

Fiona Reka Mustika-IIP4_NHW#2

Assalamualaikum wr.wb...

Tidak terasa sudah bergabung menimba ilmu di Institut Ibu Professional memasuki minggu ke 2. Dan kini tibalah saatnya bagi kami utuk menunaikan tugas Nice Home Work #2 yaitu Improvement Indicator

Pada tema ke 2 ini membahas Indicator Ibu Idamam dalam keluarga.
Saya membayangkan sebuah lingkaran keluarga bahagia ❤ anggota di dalamnya merasakan aura kebahagiaan. Dimana jantung dari sumber kebahagiaan keluarga adalah Ibu. Ibu yang berbahagia terhadap dirinya, bahagia sebagai Istri, dan bahagia sebagai Ibu utk anak-anaknya tentunya dapat membawa kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga didalamnya. InsyaAllah tujuan kelg kami mengikuti IIP adalah mencapai kebahagiaan hakiki, dengan menyempurnakan peran saya sbg Istri dan Ibu didalam keluarga.

Untuk mencari tahu tingkat kebahagiaan para anggota keluarga, saya mencoba bertatap muka dan bertanya kepada seluruh Anggora Keluarga: Ayah πŸ‘¨, Afiqah dan Nina πŸ‘­



Melalui tanya jawab dengan seluruh anggota terkasih, saya memperoleh beberapa hal berikut:

πŸ‘¨Dari Suami:
Awalnya bingung, krn  menurutnya semuanya sudah baik. Tapi akhirnya dapat tergali lebih dalam lagi bahwa Pak Suami menginginkan istrinya berdandan dan berpakaian lebih trendy (jangan dasteran mulu hehe) dan juga lebih salehah lagi bersama-sama khatam Al-Quran. Alhamdulillah, Selebihnya beliau sudah senang dengan kondisi sekarang menjadi partner beliau kepala sekolah dan saya fasilitator dlm mendidik anak-anak, senang istrinya dirumah dan menyambut  bersama anak-anak saat pulang kerja, senang dpt bersama-sama bermain dan belajar bersama anak-anak, memasak, membuat kue, mengurus rumah tangga juga mengurus bisnis dari rumah dan memastikan urusan rumah tangga berlangsung baik.

🌸 Sisi positive dari tanya jawab ini adalah menjadikan komunikasi dgn pasangan menjadi lebih baik, dan tau kemauannya Pak Suami, juga  beliau jd memahami kondisi istri nya yg sudah lama tdk dibelikan baju πŸ’ƒ. Yipiiie mau dibelikan baju dan makeup oleh Pak Suami nich πŸ’„πŸ‘šπŸ‘•πŸ‘–πŸ›.

πŸ‘­ Dari Anak: Afiqah 5th & Nina 3th
Ketikansaya tanya ke Afiqah dan Nina, mereka memeluk saya sambil berkata aku ingin mama Fiona yang seperti sekarang ini, aku senang mama bermain sama aku, mengajari memasak, membuat kue, berpetualang bersama juga sekolah dirumah bersama mama ❤ Nina juga senang sama Mama 😘 dapat hadiah cium. Nina senang mama ngga marah2 😁.

🌸 MasyaAllah meleleh air mata saya mendengar isi hati anak-anak saya.. maksud hati saya berusaha mencari tau apakah mamanya galak, apakah mama suka memukul, apakah mama suka marah. Mendengar jawaban mereka dan gesture dari anak-anak yang sering sekali mereka memeluk penuh sayang, mencium sambil berkata I Love You Mama dan berterima kasih atas setiap masakan yang disajikan oleh tangan ini rasanya saya merasa cukup atas nikmat karunia Allah SWT ini.
Untuk tetap meningkatkan kualitas saya sebagai ibu, sata tetap menambahkan beberapa improvement yang saya challenge utk meningkatkan indicator sebagai ibu idaman utk Afiqah & Nina.

πŸ‘© Dari saya Pribadi:
Bertepatan dgn bulan Ramadhan ini ingin meningkatkan kualitas ibadah, meningkatkan kemampuan membuat variasi menu Ramadhan, meningkatkan bisnis yang saya jalani untuk berbagi kepada saudara-saudara yg kurang beruntung.

Dari beberapa Indicator diatas saya berusaha membuat "Improvement Indicator Time Line" secara Quarterly (3 bulanan) untuk mempermudah check list saya dalam mengembangkan diri sebagai Individu, Istri dan Ibu bagi anak-anak saya. Dan berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, saya ingin mengangkat sub tema Ramadhan sebagai moment suci utk improvement diri πŸ˜‡

Berikut adalah Improvement Indicator saya sebagai Individu, sebagai Istri dan sebagai Ibu dari Afiqah dan Nina:



Bismilahirohmanirohim..
Layar sudah terkembang, evaluasi dan amunisi sudah disiapkan.. Mohon doanya supaya kapal dapat berlayar lebih baik lagi mengarungi lautan biduk rumah tangga πŸ‘¨‍πŸ‘¨‍πŸ‘§‍πŸ‘§ menjadi Ibu Profesional idaman keluarga ❤

Semangaaat 🌸

Waalaikumsalam Wr. Wb...

Jumat, 19 Mei 2017

Fiona Reka Mustika-IIP4_NHW#1

Adab Menuntut Ilmu - NHW#1


Bismillahirohmanirohim....

Ditepi pantai disebuah negeri antah berantah ini bersama 2 buah hati saya: Afiqah & Nina yg senantiasa menjadi inspirasi utk optimis menjalani hidup, saya merenungkan bab 1 adab menuntut ilmu, tujuan dan milestone yg akan dicapai..



Semoga saya dapat terus mengisi gelas kosong saya dan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, bagi saya, anak-anak, suami, keluarga dan masyarakat.

Prioritas Ilmu yang ingin saya dalami saat ini adalah ilmu mengendalikan diri dalam bersabar dan ilmu komunikasi bersama pasangan yg masih perlu diperbaiki..

Jujur saya tidak memiliki acuan baku dalam mendidik secara profesional untuk ke 2 anak dan keluarga saya.. Semua adalah ilmu jalanan yang saya dapatkan dari tempaan kehidupan yg menjadi lika-liku perjalanan hidup saya.

Saya anak terkecil dari 5 bersaudara di sebuah kota di Jawa Timur dan sejak smu saya bertanggung jawab menghidupi diri saya sendiri, bukan krn ortu saya tidak mampu.. tp krn usia mereka yg tidak lagi muda dan semua finansial telah dicukupkan untuk ke 4 kakak saya dan cukuplah bagi saya utk tdk menambah beban mereka lagi. Saya percaya Allah SWT mempercayakan rezeki bagi semua umat yg giat berusaha. InsyaAllah...

Alhamdulillah atas kehendak Allah SWT kuliah saya full terbiayai beasiswa, dan lgsg diterima bekerja ke Ibu Kota, jauh dr kota kelahiran saya.

Merantau dan Jauh dari bekal ilmu parenting, saya di kala itu tidak punya pengetahuan dlm memasak, merawat anak ya, dan berbenah rumah menjadi list ke sekian utk saya dikala mengejar karir saat itu.

Sebelumnya saya adalah pribadi yang tidak sabar, perfeksionis jauh dari keikhlasan. Allah SWT meningkatkan kesabaran saya selama beberapa tahap, diantaranya melalui tahap sakit.. Sakit yg membuat saya rehat dari hingar bingar karir pekerjaan duniawi dan mendekatkan saya kepada peran mulia seorang wanita menjadi seorang Ibu.. Sakit yg membuat saya kembali bersyukur, atas hari demi hari yg dilewati dari nikmat kesehatan yg telah Allah berikan...
2 bulan saya difonis tdk dpt berjalan, krn penyakit syaraf tulang belakang Multiple Schlerosis yg rupanya tdk main2. Dalam ujian kesabaran, Allah mempertemukan saya dgn suami, ayah dari kedua anak saya Afiqah dan Nina.

Jreng.. jreng.. Tidak lama saya dipinang.. Dan saat itu blm memiliki bekal parenting apapun πŸ˜‚πŸ˜‚ berbekal kenangan dan contoh teladan yg pernah ditorehkan oleh Ibu saya, ibu yang kuat, optimis, melayani, dan multi tasking. InsyaAllah saya optimis dpt menjalani seperti beliau.

Tidak lama setelah kami menikah, Allah memanggil Ibunda saya tercinta krn penyakit gula yg dideritanya, mohon keikhlasannya dibantu mendoakan Al-Fatihah semoga Ibunda Khusnul Khotimah, Aamiin YRA. Terima kasih atas keikhlasannya mendoakan... πŸ’ž

Selepas 2th pernikahan, Allah kembali meningkatkan  derajat kesabaran kami, dengan diambilnya putra pertama kami dlm usia kandungan yg blm genap 6bln krn incompetence servics yg sy alami, lalu dikehamilan ke 2 pun Allah blm mempercayakan calon bayi yg ternyata tdk dpt bertahan lama di dlm kandungan saya.

Kesedihan bertubi-tubi atas kehilangan Ibu dan kedua buah hati saya membuat saya benar-benar pasrah berserah diri, ini rencana terbaik Allah SWT. Ini pula yang menjadi pengingat saya utk ikhlas dan selalu ingat akan penyakit saya yg sewaktu-waktu  dpt di ambil pemilik semesta.

Alhamdulillah 5th yg lalu Anak pertama kami: Aisyah Afiqah lahir dengan selamat. Lalu selang setahun kemudian anak kedua kami: Khayla Nina lahir dengan selamat.
Tanpa ada orang tua yg mendampingi dan membimbing, saya mencoba membesarkan anak-anak dengan cara saya sendiri, mencari ilmu dan menyaringnya yg sesuai dgn kami.

'Kudidik diriku demi anak-anakku.. '

Hanya itulah yg dpt saya perbuat, utk masa depan generasi yg lebih baik, perubahan dimulai oleh diri sendiri. Memperbaiki dan mengisi diri ini agar siap menerima dan menebarkan ilmu positive ke keluarga dan sekitar.

Untuk mencapai tahapan yg lebih baik seperti sekarang, saya telah melalui kehidupan seperti Roller Coaster, finansial yg dibatasi, tdk boleh bekerja diluar rumah membuat saya hrs bekerja online, sambil mengurus anak pertama yg delayed speech di usia 2th, memiliki bayi ke 2 di jarak yang berdekatan dgn serba mandiri, komunikasi dengan suami tidak terjalin lancar berbentur dengan sebuah jawaban apatis, mengerjakan semua tugas rumah tangga seorang diri dan bekerja utk mendapatkan income tambahan.

Banyak yg langsung saya praktikan dalam satu kesempatan: menggali kesabaran dan keikhlasan dlm menjalani peran ibu setelah melahirkan, sambil bekerja online, juga mengurus anak-anak & rumah tangga. Prioritas dan kecekatan sebagai ibu teruji di dalam fase ini.

Problem pertama: Komunikasi dengan pasangan

Hingga 4th pertama menjadi pembelajaran membentuk komunikasi efektif dgn pasangan. Komunikasi passif yg selalu berakhir dengan jawaban 'terserah' dari pasangan membuat saya terlunta-lunta menjalaninya, tdk ada direction tujuan keluarga yg jelas.. Dari ketidak jelasan ini artinya saya hrs membuka pikiran pasangan atas peran kewajiban menjadi sepasang orang tua atas amanah yg Allah titipkan kepada kami, mengajak pasangan utk dpt bergandengan tgn mengurus buah hati, membantu mencari income dan mengurus semuanya sendiri, jauh dari keluarga, tanpa asisten rumah tangga.

Saya percaya Allah menggariskan jodoh saya dgn suami adalah utk saling melengkapi kekurangan kami, utk saling menguatkan, saling berbagi beban dan juga berbagi kebahagiaan. Tidak mungkin terjadi hari ini jika kami tdk saling menurunkan ego kami utk memahami kekurangan satu sama lain, yg dpt kami lakukan utk terus membenahi komunikasi adalah saling mengutarakan maksud hati, mengutarakan apa yg kita harapkan dari pasangan, menghormati suami, menghargai pemikiran pasangan dan bersama-sama merajut impian yg menjadi tujuan bersama.

Ya.. saya bersyukur kondisi demikian yg menguatkan saya dan pasangan utk berusaha lbh baik lagi mendidik anak-anak kami.

Yang dapat kami perbuat adalah:
Mencari metode pembelajaran yang sesuai dgn kondisi keluarga kami, membuat rencana jangka pendek dan panjang dgn pasangan, menjalankan tugas rumah tangga dgn berbagi tugas dan peran, serta menanamkan kemandirian utk Afiqah dan Nina. Alhamdulillah untuk saat ini metode Homeschooling yang kami rasa masih cocok utk AfNin kami jalani bersama. Berbagi peran dengan suami, sebagai pendorong ilmu agama utk anak-anak, one day one surah setelah sholat maghrib bersama ayah. Walaupun lelah setelah pulang kerja, menanamkan akidah adalah hal utama bagi kelg kami.

Untuk tanggung jawab kemandirian, saya tdk byk memberikan tuntutan kepada Afiqah dan Nina. Syukur alhamdulillah dari keteladanan kami setiap hari mereka dgn sendirinya dpt mengerti dan emphaty membantu peran rumah tangga seperti, Afiqah Nina setiap pagi membantu memberi makan-minum hewan peliharaan kami 15 ekor kelinci, 2 ayam, 1 kura-kura dan 1 ekor kucing utk menanamkan tanggung jawab atas makhluk hidup yang bergantung kepada mereka. Tugas suami yg saat ini diambil alih Afiqah adalah menyapu & mengepel, Nina bertanggung jawab membantu membereskan mainan, mereka jg berkolaborasi membuat sarapan sederhana seperti telur goreng dan nasi goreng juga sayur sop utk makanan mereka sehari-hari, dan mencuci piring, gelas yang mereka gunakan.
Untuk ilmu alam, matematis, bahasa dll kami pelajari bersama-sama, setiap hari tema yg kami angkat sesuai dengan minat mereka semisal, muncul rasa penasaran mereka bagaimana reproduksi hewan mamalia, maka kami mencari literatur buku sebagai sumber acuan, dan youtube untuk memberikan gambaran realnya. Jika memungkinkan kami mencoba memfasilitasi mereka utk go to the source dan menjalani prosesnya secara real.

Dalam hal ini posisi kami adalah semua sama-sama murid, yang haus untuk belajar, tanpa saling menggurui.

Problem ke dua: Sabar dan ikhlas menjalani peran Ibu

Jika diukur, awal kadar kesabaran saya sangaatlah minim, jika pada awalnya level kesabaran saya (skala 1-10) ada di skala 2, masih sgt minim suka meletup-letup dan saya yg perfeksionis, lbh percaya dgn kemampuan sendiri drpd orang lain. Walaupun setelah Allah menempa saya dengan beberapa keadaan bertubi-tubi, level kesabaran sdh mulai bisa menerima keadaan dan berada di level 6, jg bisa dikatakan tetap perlu di upgrade lagi.

Saat ini masih beberapa kali terjadi ledakan emosi yang berakhir pada anak-anak.. Lelah, letih yang tdk tersalurkan membuat saya jenuh menjalani rutinitas kehidupan.

Salah satu upaya yg saya lakukan adalah terus berusaha bekerja dirumah utk mendapatkan income tambahan, dan memberikan project homeschooling utk Afiqah dan Nina agar kami masing-masing memiliki 'me time utk bereksplorasi'. Dalam hal ini yg menjadi minat mereka saat ini adalah membuat kue, di IG: afnincookies adalah project pertama mereka.
Bukan project yg saya prakarsai, krn saya pribadi tdk bisa membuat kue enak 😁 tp Alm.Ibu saya sangat piawai membuat kue lezat. Pada awalnya Afiqah belajar dari youtube dan terus mencoba memperbaiki resepnya sampai saya dan suami merasa resep yg ia temukan itu sgt enak dilidah. Dan mereka enjoy melakukannya, maka kami fasilitasi mereka utk membuka order.

Dari income usaha saya memproduksi sprei waterproof dan usaha anak-anak dari project Afnin Cookies ini kami gunakan utk kebutuhan homeschooling kami, seperti mengenal budaya dan adat istiadat nusantara dgn pergi ke Taman Mini Indonesia Indah, jika ada budget lebih kami pergi ke suatu daerah baru dengan transportasi kereta api, bis yang murah meriah dan juga promo budget airlines disetiap perjalanan sambil mengajarkan mereka utk dpt menjalani kehidupan dgn sederhana, secukupnya sehingga kelak jika mereka ada dititik bawah tidak akan kesulitan utk menerima dan menyesuaikan diri, dan dpt mengangkat derajat orang lain melalui usaha yg mereka ciptakan.
Insyaallah dalam setiap perjalanan saya sedang menciptakan memory indah kebersamaan, pengingat masa kecil mereka, hanya rahasia Allah yg tahu seberapa lama kebersamaan ini dpt kami lalui bersama.



Dalam keseharian yang telah padat, dengan kemauan 2 anak yang berbeda watak.. Sering kali emosi tidak kuasa terlampiaskan. Walaupun ucapan maaf telah diutarakan dan telah saling memaafkan. Saya percaya saya telah menorehkan luka di dalam hati mereka.

Ketakukan terbesar yg saya sesali adalah, saya akan meninggalkan sebuah torehan luka dalam pada anak-anak ketika kelak mereka dewasa... Saya tdk ingin meninggalkan kenangan yang buruk utk mereka hadapi di masa mendatang.
Untuk itu prioritas ilmu yg ingin saya terus upgrade adalah Ilmu kesabaran dan memperbaiki diri ini agar dpt meninggalkan kenangan-kenangan indah bagi anak-anak dan suami..

Hidup ini adalah pilihan.. Dan pilihan saya: menyadari limit keterbatasan diri, menerima hidayah dan memperbaiki diri agar bahagia dan bermanfaat bagi orang lain...

Mari sama-sama belajar dan mengisi gelas kita agar senantiasa selalu mudah menerima hidayah... Mohon bimbingan dari yth Ibu Peni Septi Wulandari, Ibu Sukeng fasilitator kami, Ibu Ami ketua IIP4 Jkt 1 dan semua teman-teman yg tergabung dalam 72 member Jkt 1, mari kita saling mensupport, saling menguatkan dan bangkit menjadi Ibu Professional πŸ’–




Fiona Reka Mustika, IIP4_#NHW1